Kecerdasan Majemuk: Pembelajaran Sekolah Para Juara

Kecerdasan majemuk menjadi inspirasi lahirnya model-model pembelajaran inovatif. Teori kecerdasan majemuk atau multiple intelligence merupakan temuan Howard Gardner dari Harvard University. Penerapan teori kecerdasan majemuk telah dibahas tuntas oleh Thomas Armstrong dalam bukunya; Sekolah Para Juara: menerapkan multiple intelligence di dunia pendidikan. Kecerdasan majemuk bisa menjadi dasar bagi guru dan sekolah dalam menyusun kurikulum, rencana pembelajaran – RPP, dan metode pembelajaran yang tepat. Para pendidik perlu memahami 8 jenis kecerdasan pada diri tiap individu.

Hakikat Pembelajaran: Model Pembelajaran Menyenangkan

Hakikat pembelajaran adalah terjadinya perubahan perilaku. Semua pakar pendidikan, baik secara tersurat maupun tersirat, berpandangan demikian. Ki Hajar Dewantara, Crow&Crow, Witherington, Hilgard, Gage&Berliner, Di Vesta Thompson, dan yang lainnya memberikan penekanan yang sama, belajar berarti perubahan perilaku. Tentu saja, perilaku yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran harus menghasilkan peserta didik yang semula tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak punya kepribadian menjadi berkepribadian, dari tidak punya karakter menjadi berkarakter, dan seterusnya.

Model Pengembangan Kurikulum

Model Pengembangan kurikulum melalui RPP berkarakter menjadi fokus perhatian sekolah-sekolah dalam upaya membangun karakter (character building) peserta didik. Prinsip pengembangan kurikulum berkarakter tidak berbeda dengan prinsip pengembangan kurikulum yang telah dilakukan saat ini. Hal ini mengacu pada prinsip-prinsip pengembangan kurikulum KTSP tahun 2006 dengan poin utama berbasis kompetensi.  Dimasukkannya pengembangan karakter bagi peserta didik ini dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki watak yang kuat dan memiliki sikap terpuji ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat. Sikap-sikap disiplin, jujur, mandiri, tidak korup, dan sikap positif lainnya diharapkan tertanam pada diri peserta didik. Jalan yang bisa ditempuh melalui pendidikan formal adalah dengan memasukkan penekanan sikap tersebut pada semua mata pelajaran melalui RPP – rencana pelaksanaan pembelajaran.

Berkaitan dengan Model pengembangan kurikulum Dalam kurikulum KTSP 2006 telah digariskan prinsip-prinsip dalam kegiatan pengembangan kurikulum berdasarkan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai kurikulum tersebut. Prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari dapat dijadikan bahan dalam kegiatan pengambangan kurikulum. Disamping itu, pengembang kurikulum dapat menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya, sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda antar lembaga penyelenggara pendidikan.

Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dibagi dalam dua kelompok :

1. Prinsip-prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;

2. Prinsip-prinsip khusus : prinsip yang berkaitan dengan tujuan pendidikan, pemilihan isi, pemilihan proses kegiatan pembelajaran, pmilihan media dan alat pembelajaran, dan prinsip yang berkaitan dengan evaluasi (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997).

Penjelasan Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum KTSP seperti tertera di bawah ini.

  1. Prinsip relevansi berarti, secara internal kurikulu memiliki kesesuaian  antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan dan potensi peserta didik,  dan tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat.
  2. Prinsip fleksibilitas berarti pengembangan kurikulum berusaha agar hasilnya bersifat luwes atau lentur. Hal ini memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian dengan situasi dan kondisi lingkungan peserta didik.
  3. Prinsip kontinuitas berarti adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
  4. Prinsip efisiensi berarti pengembangan kurikulum harus berdaya guna dari segi waktu, biaya, dan sumber-sumber lain secara optimal.
  5. Prinsip efektivitas berati pengambangan kurikulum harus berhasil guna sehingga kegiatan pembelajaran tidak sia-sia.

Prinsip-prinsip inilah yang membedakan kurikulum KTSP 2006 dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya.

Pedoman Pengembangan RPP – Rencana Pelaksanaan Pembelajaran download DI SINI

Metode Pembelajaran Kooperatif

Metode Pembelajaran Kooperatif  STAD (Student Team Achievement Divisions) adalah model pembelajaran kooperatif (kerja sama dalam kelompok) yang paling sederhana. Model pembelajaran tipe ini, menempatkan siswa dalam kelompok atau tim belajar terdiri atas 4 sampai 5 orang yang memiliki perbedaan tingkat kemampuan, jenis kelamin dan suku jika memungkinkan. Dalam aplikasinya, setelah guru menyajikan materi pembelajaran, siswa bekerja dalam kelompok / tim yang telah dibentuk sebelumnya. Melalui diskusi dalam tim kecil tersebut, diharapkan semua anggota tim dapat menguasai pelajaran tersebut. selanjutnya, seluruh siswa dalam tim diberikan tes secara individual tentang materi yang dibicarakan dalam kelompoknya. Mereka tidak boleh saling membantu pada saat tes individual dilakukan.

Langkah-langkah  metode pembelajaran kooperatif  tipe STAD ini  pertama dikembangkan oleh Robert Slavin bersama rekan-rekannya di Universitas John Hopkin, Amerika Serikat pada tahun 1994. Dalam perkembangannya, model pembelajaran kooperatif STAD banyak dipakai para guru di Indonesia dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam menyusun RPP  rencana pembelajaran, guru dapat menggunakan metode, strategi  maupun media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.

Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif  STAD

1.    Siswa dibagi dalam kelompok kecil terdiri atas 4 sampai 5 orang.

2.    Guru menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan metode dan media yang sesuai. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes individual.

3.    Siswa mendiskusikan materi yang disampaikan oleh guru dalam kelompok kecil yang telah dibentuk. Dalam diskusi ini, siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban dengan timnya, dan saling memperbaiki kesalahan konsep yang dibuat oleh anggota tim.

4.    Setelah diskusi dalam tim atau kelompok kecil selesai, siswa diberikan tes secara individual. Ketika tes individual ini masing-masing siswa tidak boleh saling membantu. Oleh karena itu, ketika berdiskusi bersama tim mereka harus aktif mengikuti dengan seksama.

5.    Setiap anggota tim diharapkan mendapatkan skor setinggi-tingginya karena skor ini akan menentukan skor total yang diperoleh timnya.

6.    Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki skor rata-rata tertinggi.

 

Keunggulan Metode Pembelajaran Kooperatif STAD

  1. Siswa akan terbiasa bekerja sama dalam tim / kelompok
  2. Melatih siswa bertanggung jawab atas nama baik tim maupun prestasi individu.
  3. Terjadi kompetisi sportif antar tim dalam kelas.
  4. Tingkat ketercapaian kompetensi dasar lebih tinggi karena siswa yang kurang mampu akan terbantu oleh timnya melalui diskusi.

Perangkat Pembelajaran Berkarakter

Capek juga, ya, mencari perangkat pembelajaran berkarakter di internet. Bagaimana tidak capek? Sudah mengetikkan kata kunci berkali-kali di google tidak juga mendapatkan hasil. Memasukkan keyword rpp berkarakter, beberapa hasil pencarian muncul dengan kata kunci itu, tetapi ketika di-klik justru yang muncul iming-iming cara cepat kaya alias kaya mendadak (memelihara tuyul, kali ya?). Memasukkan keyword rpp bahasa inggris, yang muncul justru gambar wanita telanjang. Mengetik  kata perangkat pembelajaran SMP, tapi ketika di-klik malah disuruh klik di sini, klik di situ, dan ujung-ujungnya tidak mendapat apa-apa. Kasihan deh, pak guru dan bu guru. Padahal, yang punya blog bisa jadi mantan murid. Tega-teganya bikin pusing mantan gurunya yang sudah memberikan pembelajaran berkarakter. Pernah, kan, mengalami pengalaman pahit seperti di atas? Alhamdulillah, ya (kata Syahrini) ada blog ini. Sesuatu banget, pokoknya.

Powered by WordPress | Designed by: Microsoft Project Server
Baca Juga Artikel Menarik Lainnya:close