Kecerdasan Majemuk: Pembelajaran Sekolah Para Juara

Kecerdasan majemuk menjadi inspirasi lahirnya model-model pembelajaran inovatif. Teori kecerdasan majemuk atau multiple intelligence merupakan temuan Howard Gardner dari Harvard University. Penerapan teori kecerdasan majemuk telah dibahas tuntas oleh Thomas Armstrong dalam bukunya; Sekolah Para Juara: menerapkan multiple intelligence di dunia pendidikan. Kecerdasan majemuk bisa menjadi dasar bagi guru dan sekolah dalam menyusun kurikulum, rencana pembelajaran – RPP, dan metode pembelajaran yang tepat. Para pendidik perlu memahami 8 jenis kecerdasan pada diri tiap individu.

Delapan jenis kecerdasan tersebut adalah: (1) kecerdasan linguistik – word smart, (2) kecerdasan spasial – picture smart, (3) kecerdasan matematis – logic smart, (4) kecerdasan kinestetis – body smart, (5) kecerdasan musik – music smart, (6) kecerdasan interpersonal – people smart, (7) kecerdasan intrapersonal – self smart, dan (8) kecerdasan naturalis – nature smart.

Kecerdasan Majemuk, Paradigma Baru Metode Pembelajaran Modern

Menurut Thomas Armstrong, setiap siswa memiliki minimal 1 atau 2 jenis kecerdasan di atas. Guru yang menuntut siswanya memiliki semua kecerdasan majemuk, sungguh sangat berlebihan. Sebaliknya, pendidik yang mengaggap muridnya tidak memiliki kecerdasan juga tidak sesuai dengan teori Gardner.

Teori kecerdasan majemuk diilustrasikan dalam kata pengantar buku Sekolah Para Juara dengan bahasa yang mudah dipahami. Ilustrasinya seperti tertera di bawah ini.

Syahdan, terbetiklah kabar yang menggemparkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para binatang besar itu, berencana menciptakan sebuah sekolah yang di dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Anehnya, mereka tidak dapat mengambil kata sepakat tentang pelajaran mana yang paling penting. Akhirnya, mereka memutuskan agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Setiap murid harus mengikuti pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Sekolah pun dibuka dan menerima murid dari berbagai pelosok hutan. Pada saat-saat awal dikabarkan bahwa sekolah berjalan lancar. Seluruh murid dan pengajar di sekolah itu menikmati segala kebaruan dan keceriaan. Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah itu.

Salah satu  murid bernama kelinci menghadapi masalah besar. Kelinci jelas merupakan binatang yang pandai berlari. Ketika mengikuti pelajaran berenang, kelinci hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti pelajaran berenang ternyata mengguncang batinnya. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran berenang, kelinci pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya. Begitu juga si burung elang. Dia berusaha keras  mengikuti pelajaran berenang tetapi tetap tidak bisa. Tragisnya lagi, karena sibuk belajar berenang akhirnya dia lupa cara terbang.

Demikianlah, kesulitan demi kesulitan ternyata melanda juga ke diri binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ulat, dan binatang kecil lainnya. Para binatang itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.

Dongeng yang ditulis Thomas Armstrong di atas sangat menarik  untuk memahami teori kecerdasan majemuk. Multiple intelligence atau teori kecerdasan majemuk menjadi semacam alat yang sangat ampuh untuk memunculkan paradigma baru yang berkaitan dengan penyusunan kurikulum,  rencana pembelajaran atau RPP Berkarakter, dan kegiatan di sekolah.

Dalam menerapkan model-model pembelajaran di sekolah, guru didorong untuk yakin bahwa setiap siswa memiliki salah satu jenis kecerdasan tersebut. Dengan demikian, guru memandang tidak ada murid yang bodoh. Yang ada adalah dia memiliki kecerdasan yang belum diketahui atau belum digali di antara 8 kecerdasan majemuk di atas. Artinya, jika ada siswa yang selalu ngobrol dengan temannya saat kegiatan pembelajaran, mungkin dia memiliki kecerdasan bahasa. Seringkali siswa yang memiliki kecerdasan musik, dia suka menyanyi-nyanyi sambil memukul-mukul meja ketika guru menyampaikan materi pembelajaran. Begitu juga siswa yang memiliki kecerdasan kinestetis akan sulit diam di tempatnya, kadang dia terkesan mengganggu temannya. Kejelian guru menangkap isyarat dari perilaku siswa ini akan memudahkan dalam menemukan dan menggali kecerdasan yang ia miliki. Dengan demikian, pemilihan metode dan strategi pembelajaran akan lebih mudah.

Dengan paradigma baru sesuai teori kecerdasan majemuk yang menganggap tidak ada murid yang bodoh, setiap guru akan memandang para muridnya sebagai manusia-manusia yang memiliki potensi untuk berprestasi. Setiap guru, menurut pakar accelerated learning, Georgi Lazanov, akan berusaha keras membangun sugesti positif di dalam kelas dan memunculkan sekurang-kurangnya satu kecerdasan yang menonjol pada diri murid mereka. Hal itu akan bisa dirasakan siswa jika kegiatan belajar yang tertuang dalam rencana pembelajaran memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para murid untuk mengembangkan potensi dirinya. Bukan sebaliknya, mematikan kreativitas peserta didik.

 

Artikel Ini Dicari dengan Kata Kunci:

kecerdasan majemuk 8 kecerdasan majemuk teori kecerdasan majemuk contoh makalah tentang hakikat teori kecerdasan majemuk esensi teori pendidikan kecerdasan majemuk

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: Microsoft Project Server
Baca Juga Artikel Menarik Lainnya:close